Rabu, 17 Oktober 2018

Lala.. siswi kelas 4 SD N Prawirotaman giat dan berprestasi di bidang tari

UPAYA MENSUKSESKAN GERAKAN LITERASI SEKOLAH MELALUI PENGELOLAAN SUDUT BACA KELAS

Peradaban suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan di hasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang di dapat, sedangkan ilmu pengetahuan di dapat dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan. Semakin banyak penduduk suatu wilayah yang haus akan ilmu pengetahuan semakin tinggi peradabannya. Budaya suatu bangsa biasanya berjalan seiring dengan budaya literasi, faktor kebudayaan dan peradaban dipengaruhi oleh membaca yang dihasilkan dari temuan-temuan para kaum cerdik pandai yang terekam dalam tulisan yang menjadikan warisan literasi informasi yang sangat berguna bagi proses kehidupan sosial yang dinamis. Rendahnya minat baca masyarakat kita sangat mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia, sebab dengan rendahnya minat baca, tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia, dan akhirnya akan berdampak pada ketertinggalan bangsa Indonesia. Literasi menjadi lebih komplek (luas) dan sangat berpengaruh pada perkembangan suatu bangsa, tingginya tingkat literasi berbanding lurus dengan kemajuan suatu negara. Yaitu negara-negara yang maju memiliki skor yang tinggi berdasarkan TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) dan PISA (Program for International Student Assessment) Sedangkan di negara-negara ASEAN nilainya jauh tertinggal. Dari laporkan hasil studi yang dilakukan Central Connecticut State University di New Britain, diperoleh informasi bahwa kemampuan literasi Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei (Jakarta Post, 2016). Rendahnya minat baca di Indonesia itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Gerakan Literasi Sekolah di Indonesia kembali digiatkan setelah beberap bulan yang lalu sempat meredup. Banyak sekolah berlomba-lomba membuat terobosan-terobosan yang berupa kegiatan-kegiatan maupun pemenuhan fasilitas yang bermuara pada Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan Literasi Sekolah ini saat ini sedang digiatkan kembali karena menjadi bagian materi sosialisasi Kurikulum 2013 (K13). Bahkan pada momen apapun, event apapun asal itu relevan dengan Gerakan Literasi Sekolah akan terus-menerus disosialisasikan ke sekolah-sekolah karena Gerakan Literasi Sekolah sudah di-Permendikbud-kan yaitu Permendikbud nomor: 23 Tahun 2013. Gerakan literasi Sekolah. Literasi itu sendiri memiliki makna yang sangat luas. Tidak terbatas pada kegiatan membaca, menulis atau berhitung, tetapi sudah menjadi lifeskill, termasuk juga kemampuan untuk memecahkan masalah. Rendahnya literasi membaca tersebut akan berpengaruh pada daya saing bangsa dalam persaingan global. Kemampuan literasi sangat penting untuk keberhasilan individu dan negara dalam tataran ekonomi berbasis pengetahuan di percaturan global pada masa depan (Miller, 2016). Hal ini memberikan penguatan Gerakan Literasi Sekolah melalui kurikulum wajib baca penting untuk diterapkan dalam pendidikan di Indonesia. Salah satu alasan mengapa gerakan ini perlu digiatkan kembali sudah barang tentu karena Indonesia memiliki mimpi ingin menjadi negara yang besar dan maju. Tujuan kurikulum wajib baca adalah sebagai berikut: a) membentuk budi pekerti luhur; b) mengembangkan rasa cinta membaca; c) merangsang tumbuhnya kegiatan membaca di luar sekolah; d) menambah pengetahuan dan pengalaman; e) meningkatkan intelektual; f) meningkatkan kreativitas; g) meningkatkan kemampuan literasi tinggi. Adapun Sasaran kurikulum wajib baca adalah peserta didik di sekolah. Tahap-Tahap Gerakan Literasi Sekolah dalam Kurikulum Wajib Baca Kurikulum wajib baca juga mempertimbangkan tiga tahap literasi, yakni pembiasaan (belum ada tagihan), pengembangan (ada tagihan nonakademik), dan pembelajaran (ada tagihan akademik). Dalam ketiga tahap literasi tersebut, kurikulum wajib baca dapat terwujud dalam beberapa kegiatan. Berikut ini adalah contoh kegiatan yang dimaksudkan dengan langkah-langkahnya. Contoh Tahap Pembiasaan yaitu: wajib baca setiap hari minimal 15 menit pada waktuyang disepakati sekolah, mendekatkan bacaan dengan membuat sudut baca kelas, jam wajib kunjung perpustakaan, membacakan cerita dan lain-lain. Contoh Tahap pengembangan yaitu: mengembangkan sudut baca termasuk koleksi dan pemanfaatannya, membaca 1 jam sehari, membuat klup pecinta buku, memberikan penghargaan membaca dan lain-lain. Sedangkan tahap Pembelajaran contohnya: Membuat mading kelas, membuat resensi buku, pelatihan menulis, membaca cerita ke teman-teman, dan lain-lain. Pembuatan, Pemeliharaan, dan Pemanfaatan Sudut Baca Kelas Seiring dengan kurikulum wajib baca yang terus digiatkan dalam rangka mensukseskan Gerakan Literasi Sekolah, berbagai upaya dilakukan untuk melatih pembiasaan anak untuk membaca. Keberhasilan Gerakan terasi sekolah harus didukung oleh lingkungan fisik yang mendukung kegiatan literasi. Salah satunya pembuatan sudut baca pada setiap kelas. Sudut baca atau pojok baca merupakan pengelolaan koleksi buku dalam tempat tertentu /yang diletakkan di ruang kelas dengan tujuan untuk mendekatkan siswa didik dari bacaan. Koleksi yang ada di sudut baca bisa dari koleksi perpustakaan sekolah jika mencukupi atau bisa juga dari siswa didik. Pembuatan sudut baca sendiri tidak sekedar pengumpulan koleksi saja belum cukup untuk menarik siswa mengunjungi dan beraktivitas di dalamnya. Sebuah perpustakaan kecil harus didekorasi dengan cantik sehingga siswa betah berlama-lama di dalamnya. Dengan bahan-bahan dan peralatan yang mudah didapat. Berikut pojok baca sederhana yang dapat di buat di dalam kelas: Pemelihaan dan pengembangan sudut baca dapat dilakukan dengan secara berkala memutar koleksi ke kelas yang lain. Jika koleksi diperoleh dari siswa dan telah selesai dibaca, koleksi tersebut bisa diserahkan ke perpustakaan. Selanjutnya koleksi diganti dengan koleksi yang baru. Sedangkan dalam pemanfaatannya dibutuhkan kerjasama, komitmen kepala sekolah, dan dukungan guru dan juga orang tua. Pemanfaatan sudut baca kelas digunakan dalam jam wajib baca minimal 15 menit membaca setiap hari pada waktu yang telah disepakati. Pembiasaan tersebut untuk menumbuhkan budaya suka akan buku dan budaya gemar membaca. Setiap hari guru yang terlibat langsung dalam pemanfaatan sudut baca harus aktif menyediakan waktu khusus dan cukup banyak untuk pembelajaran dan pembiasaan literasi baik membaca dalam hati (sustained silent reading), membacakan buku dengan nyaring (reading aloud), membaca bersama (shared reading), membaca terpandu (guided reading), diskusi buku, bedah buku, presentasi (show-and-tell presentation). Pengelolaan sudut baca dapat berhasil apabila kepala sekolah terlibat aktif dalam pengembangan literasi, sedangkan orang tua berperan dalam melatih pembiasaan membaca di rumah dan mendukung pengembangan gerakan literasi di sekolah. Dari hasil penelitian terkait minat baca di Indonesia yang menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Hal tersebut perlu mendapat perhatian dari seluruh bangsa Indonesia baik pemerintah maupun seluruh rakyat Indonesia. Saat ini pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan kebiasaan membaca pada anak dengan mengeluarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah terkait upaya tersebut tidak lepas peran serta orang tua khususnya dalam menumbuhkan kebiasaan membaca pada anak sejak dini yang berawal dari lingkungan keluarga. Kebiasaan membaca tidak bisa dipaksakan, melainkan diawali dengan kebiasaan, diciptakan suasana yang nyaman, serta disediakan sarana dan prasarana yang mendukung anak untuk membaca. Salah satunya dengan membuat Pojok Baca Kelas pada masing-masing sekolah. Agar Pojok Baca kelas tersebut menarik dan akhirnya diminati oleh murid, diperlukan penataan dengan desain yang menarik walaupun dengan bahan yang mudah didapat dan murah. Sedangkan untuk variasi koleksi diperlukan kerjasana dari berbagai pihak termask orang tua murid. Daftar Pustaka Sumber: Manual Pendukung Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah, Kemdikbud. 2016 http://portalkurikulum.blogspot.co.id/2016 http://www.tanotofoundation.org/education/2015/09/menyulap-ruang-kecil-menjadi-pojok-baca-yang-menarik Oleh: Sri Anik Lestari, A.Md